Dewa 19 - Karir Dan Perjalanannya
Dewa 19 atau sebelumnya "Dewa" adalah grup band rock Indonesia yang dibentuk pada tahun 1986 di Surabaya Jawa Timur.
Grup band ini telah melewati beberapa kali pergantian personel.
Dan formasi saat ini adalah Ahmad Dhani (keyboard), Andra Junaidi (gitar), Yuke Sampurna (bass) dan Agung Yudha (drum).
Setelah mendominasi kancah festival musik pada akhir tahun 1980an.
Lalu Dewa 19 pindah ke Jakarta dan merilis rekaman pertamanya pada tahun 1992.
Grup band ini meraih kesuksesan pada tahun 1990an dengan vokalis Ari Lasso dan pada tahun 2000an dengan vokalis Once Mekel.
Sepanjang perjalanan karirnya, Dewa 19 telah meraih berbagai penghargaan.
Grup band ini seringkali mendapatkan penghargaan dari BASF Awards dan AMI Awards.
Tidak hanya itu, Dewa 19 juga meraih sejumlah penghargaan internasional.
Termasuk dua kali memenangkan Anugerah Planet Muzik, LibForAll Award dari LibForAll Foundation di Amerika Serikat.
Serta Moonman Award dari MTV Southeast Asia Viewer's Choice.
Pada tahun 2008, majalah Rolling Stone mengakui prestasi Dewa 19 dengan menyertakan mereka dalam "The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa".
Ahmad Dhani juga tercatat sebagai salah satu artis dalam daftar tersebut.
Sementara itu, Andra Ramadhan diakui sebagai salah satu dari "50 Gitaris Indonesia Terbaik Sepanjang Masa".
Sedangkan Ari Lasso dan Once Mekel masuk ke dalam daftar "50 Penyanyi Indonesia Terbaik Sepanjang Masa".
Dewa 19 merilis empat album studio bersama Ari Lasso, yaitu "19" (1992), "Format Masa Depan" (1994),"Terbaik Terbaik" (1995) dan "Pandawa Lima" (1997).
Dengan Vokalis Ari Lasso menghasilkan hits yang cukup tenar seperti "Kangen", "Aku Milikmu", "Cukup Siti Nurbaya", "Cintakan Membawamu Kembali", "Kirana", "Kamulah Satu Satunya".
Setelah Ari Lasso digantikan oleh Once pada tahun 1999, karir Dewa 19 terus melesat.
Dengan album "Bintang Lima" (2000) dan "Cintailah Cinta" (2002) yang masing-masing terjual lebih dari satu juta keping.
Dua album lagi yaitu "Laskar Cinta" (2004) dan "Republik Cinta" (2006) serta "Kerajaan Cinta" (2007).
Hits yang pernah lahir pada era tersebut antara lain "Roman Picisan", "Risalah Hati", "Separuh Napas", "Arjuna", "Pupus", "Pangeran Cinta"Larut"dan "Dewi".
Itu adalah hasil perkembangan dari Dewa 19 setelah keluarnya Once pada tahun 2011.
Setelah itu Dewa 19 menghadirkan Virzha dan Ello sebagai vokalis utama dalam format kolaborasi.
Selain itu, grup band ini telah merekam ulang lagu-lagu lama mereka dengan dua vokalis tersebut.
Serta melakukan konser-konser reuni dengan mantan personel sejak 2012.
Di dekade 2020-an, mereka berhasil menggelar tur stadion sukses di Indonesia dan Malaysia, bahkan memecahkan rekor jumlah penonton tertinggi di Indonesia.
Perubahan Formasi Dan Arah Musik
Pada masa-masa awal, Dewa memainkan musik yang cenderung pop.
Namun arah musik mereka berubah ke genre jazz setelah diperkenalkan oleh Erwin Prasetya.
Dinamika internal terjadi pada tahun 1987 ketika Wawan, penggemar berat musik rock, memutuskan hengkang dan bergabung dengan grup band Outsider.
Posisi Wawan digantikan silih berganti oleh Ari Sudono, Rizky Noviar, dan Salman Harroen.
Saat itu, nama grup juga diubah menjadi "Down Beat", terinspirasi dari nama majalah jazz terkenal.
Dengan formasi ini, mereka meraih sejumlah kesuksesan di panggung festival, seperti menjadi Juara I Festival Band SLTA '90 dan Juara II di Jarum Super Fiesta Musik.
Ketika grup band Slank sedang populer, Wawan dipanggil kembali untuk menghidupkan Dewa.
Kali ini Ahmad Dhani mengajak serta Ari Lasso.
Nama "Down Beat" pun dikembalikan menjadi "Dewa".
Grup band ini pun kemudian menghadirkan perpaduan musik pop, rock, dan jazz yang menjadi alternatif baru.
Seorang teman mereka, Harun, tertarik dan menawarkan investasi Rp 10 juta untuk rekaman.
Karena tidak ada studio yang memadai di Surabaya, mereka pun pindah ke Jakarta dengan modal terbatas pada periode 1992-1994.
Setelah rekaman selesai, Dhani tetap di Jakarta untuk mencari label rekaman.
Setelah banyaknya penolakan, sumber rekaman utama mereka akhirnya menarik perhatian Jan Djuhana dari Team Records.
Pada tahun 1992, Dewa merilis album perdana berjudul "19" yang mencerminkan usia rata-rata personelnya.
Nama album yang menyatu dengan nama band ini membuat mereka kemudian dikenal sebagai Dewa 19.
Album ini (19) sukses tak terduga dengan hits seperti "Kangen" dan "Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi".
Dan mengantarkan mereka memenangkan dua penghargaan di BASF Awards 1993 untuk "Pendatang Baru Terbaik" dan "Album Terlaris 1993".
Pada tahun 1994, Dewa 19 merilis album kedua berjudul "Format Masa Depan".
Namun, dalam proses pembuatannya, Wawan sang drummer kembali meninggalkan band.
Posisi drummer untuk album ini diisi oleh dua musisi tamu: Ronald Fristianto (Gigi) yang mengisi 6 lagu, termasuk "Masihkah Ada" dan "Format Masa Depan", serta Rere Reza (Grass Rock) yang mengisi 4 lagu seperti "Aku Milikmu" dan "Mahameru".
Mulai tanggal 24 September 1994, Aquarius Musikindo resmi menjadi label tetap Dewa 19, menggantikan Team Records.
Album kedua mereka yang berjudul, "Format Masa Depan", dirilis di bawah naungan label baru ini.
Serta menghasilkan sejumlah singel hit seperti "Aku Milikmu" dan "Tak Kan Ada Cinta yang Lain"
Masa Gemilang Dewa 19
Pada tahun 1995, Dewa 19 merilis album ketiga dengan judul"Terbaik Terbaik".
Posisi drum untuk album ini diisi sepenuhnya oleh Rere Reza (Grass Rock),.
Dan setelah itu Wong Aksan bergabung sebagai drummer tetap setelah album "Terbaik-Terbaik" dirilis.
Album ini mengusung konsep musik pop-rock yang diperkaya dengan sentuhan jazz, folk rock, funk, serta balada sentimental.
Banyak pengamat musik yang menganggap "Terbaik Terbaik" sebagai karya terbaik mereka.
Serta mengukuhkan reputasi Dewa 19 sebagai salah satu grup band paling kreatif di Indonesia.
Bukti pengakuan ini antara lain tercantum dalam daftar "150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" versi majalah Rolling Stone (edisi Desember 2007), di mana album ini menempati peringkat ke-26.
Album ini melahirkan sejumlah singel legendaris. "Cukup Siti Nurbaya" sebagai singel utama bahkan masuk dalam daftar "150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa" (Rolling Stone, 2009) di peringkat ke-20.
Hits lainnya termasuk "Satu Hati (Kita Semestinya)" dan balada "Cinta 'Kan Membawamu Kembali".
Kesuksesan album "Terbaik Terbaik" dibuktikan dengan penjualan mencapai 500.000 keping dan membawa pulang sejumlah penghargaan prestisius.
Penghargaan itu, BASF Awards untuk kategori "Grup Musik Rock Terbaik", "Grup/Duo Rekaman Terbaik", dan "Tata Musik Rekaman Terbaik".
Video klip "Cukup Siti Nurbaya" juga meraih penghargaan "Video Klip Terbaik" di ajang Video Musik Indonesia.
Pada periode inilah, istilah "Baladewa" mulai digunakan untuk menyebut para penggemar fanatik mereka.
Album keempat Dewa 19, "Pandawa Lima", dirilis pada tahun 1997 dengan formasi solid.
Formasi itu terdiri dari Ari Lasso (vokal), Andra Junaidi (gitar), Erwin Prasetya (bass), Ahmad Dhani (keyboard), dan Wong Aksan (drum).
Album ini menjadi salah satu pencapaian puncak mereka, dengan meraih enam penghargaan sekaligus dalam perhelatan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 1997, termasuk "Lagu Terbaik Umum", "Album Rhythm & Blues Terbaik", dan "Sampul Album Terbaik".
"Pandawa Lima" menghasilkan lagu-lagu hits besar seperti "Kirana" dan "Kamulah Satu-Satunya".
Kedua lagu tersebut memenangkan penghargaan "Video Klip Favorit" di ajang Video Musik Indonesia.
Dari sisi komersial, album ini sukses luar biasa dengan penjualan melebihi 800.000 keping.
Juga meraih sertifikat 5x Platinum, dan mengukuhkan Dewa 19 sebagai raksasa musik Indonesia yang tak terbantahkan.
Bintang Lima
"Bintang Lima" adalah album kelima dari grup musik Dewa yang diluncurkan pada tahun 2000.
Dalam album ini, Dewa memperkenalkan anggota barunya, yaitu Elfonda "Once" Mekel sebagai penyanyi utama dan Tyo Nugros sebagai pemain drum, menggantikan dua anggota Dewa sebelumnya, Ari Lasso dan Wong Aksan, yang telah keluar.
Kehadiran dua anggota baru ini membawa perubahan positif dan semangat baru dalam musik Dewa.
Album ini sangat populer di kalangan masyarakat dan berhasil terjual sebanyak 1,7 juta kopi.
Album ini merupakan album yang paling sukses sepanjang perjalanan karier Dewa.
Album ini (Bintang Lima), menghasilkan banyak lagu-lagu yang cukup meledak.
Di antaranya "Roman Picisan", "Dua Sejoli", "Risalah Hati", "Cemburu", "Lagu Cinta", "Sayap-Sayap Patah", "Separuh Nafas", dan "Cinta Adalah Misteri".
Album Bintang Lima masuk dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.
Tur Dewa 19
Dewa 19 mengadakan tur yang diberi judul "Atas Nama Cinta" di 25 kota di Indonesia.
D imulai dengan konser di Plenary Hall, Jakarta Convention Center pada tanggal 18 Februari 2003.
Dalam tur ini, Dewa juga mengundang Ari Lasso, mantan vokalis mereka.
Pada awal tahun 2004, Dewa merilis album live ganda berjudul "Atas Nama Cinta" yang berisi rekaman dari konser selama tur tersebut, mencakup lagu-lagu hits Dewa sejak tahun 1992 dalam format konser.
Selain itu, Dewa juga merilis ulang album "The Best of Dewa 19" dalam bentuk DVD yang berisi materi tentang kelahiran dan perjalanan Dewa 19, 10 video klip, serta 1 CD audio dan 1 buku sejarah dan perjalanan Dewa 19.
Album "The Best of Dewa 19" sendiri sudah terjual hampir 1 juta kopi sejak pertama kali dirilis pada tahun 1999.
Pada tahun 2004, Dewa kembali melakukan tur di 30 kota yang didukung oleh Yamaha dengan judul "Yamaha Dewa Tour 2004 – Selalu Terdepan".
Setelah tur ini, Dewa secara resmi merilis album kedelapan mereka yang berjudul "Laskar Cinta" pada tanggal 22 November 2004.
Dalam album ini (Laskar Cinta), Dewa menghadirkan musik rock yang lebih berat dan menggunakan elemen musik sampling.
Album ini menghasilkan hits seperti "Pangeran Cinta," "Satu," dan "Cinta Gila." Nama Dewa kemudian dikembalikan menjadi "Dewa 19."
Konflik Logo Album Dewa 19
Dewa 19 menghadapi masalah baru, kali ini dengan Front Pembela Islam (FPI), terkait sampul album "Laskar Cinta" yang mengandung logo yang menyerupai kaligrafi Allah.
Konflik ini akhirnya berujung pada pelaporan Dewa 19 ke polisi oleh FPI setelah adu komentar panas di media.
Namun, pada tanggal 27 April 2005, Dewa 19 dan pengacaranya Habib Umar Husein SH mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan niat mereka untuk mengubah logo dalam sampul album "Laskar Cinta".
Perubahan logo ini dipimpin oleh Tepan Cobain dari tim kreatif Dewa dengan konsultasi kepada seorang ahli kaligrafi Al Qur'an, Didin Sirajuddin AR.
Terkait dengan perubahan logo ini, Dewa 19 juga mencetak ulang sampul album "Laskar Cinta".
Dalam cetakan ulang tersebut, selain logo yang diubah, ada juga perubahan dalam gambar personel Dewa yang sebelumnya memakai tato, seperti yang disarankan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pengakuan Internasional dan Era "Republik Cinta"
Selama periode tahun 2003 hingga 2005, Dewa telah mendapatkan sejumlah undangan untuk tampil dalam konser internasional.
Pada tanggal 13-15 Agustus 2003, Dewa mengadakan dua konser di Jepang, satu di Tokyo dan satu lagi di Nagoya.
Tahun 2004, mereka menggelar konser di Korea Selatan dan kemudian berlanjut ke Amerika Serikat untuk mengadakan pertunjukan di Boston, Houston, San Fransisco, dan Seattle. Pada tanggal 7 Mei 2004.
Dewa juga diundang untuk memberikan konser di Timor Leste sebagai bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan negara tersebut.
Konser Dewa 19 pada tanggal 15 Mei 2004 di Municipal Stadium, Dili, dihadiri oleh 50.000 penonton.
Jumlah ini merupakan rekor penonton terbanyak yang pernah diterima Dewa saat tampil di luar negeri.
Pada hari berikutnya, ketika hendak kembali ke Indonesia, personel Dewa ditemui oleh presiden Xanana Gusmao di koridor Aeroporto Internacional Presidente Nicolau Lobato.
Pada Maret 2005, Dewa menggelar konser di kota Sydney dan Melbourne, Australia.
Selain itu, Dewa 19 juga menyelenggarakan konser di Singapura setelah menerima penghargaan istimewa dari Anugerah Planet Muzik 2005 sebagai "The Most Genius Band."
Dewa 19 mulai serius menjajaki pasar internasional dengan menandatangani kontrak untuk tiga album bersama EMI Music International Hong Kong yang efektif mulai 1 Januari 2006.
Kemudian, Dewa 19 merilis album yang diberi judul "Republik Cinta" pada awal tahun 2006 dalam dua versi, salah satunya untuk pasar Indonesia dan yang lainnya untuk pasar internasional.
Sebelum merilis album ini, pada tanggal 12 Desember 2005, Dewa dan EMI telah memperkenalkan lagu berjudul "Laskar Cinta" di 150 stasiun radio di Indonesia.
"Laskar Cinta" sendiri mencerminkan isu-isu terorisme dan kekerasan, terinspirasi oleh konflik Dewa dengan FPI beberapa waktu sebelumnya.
Upaya Dewa 19 untuk dikenal di kancah internasional mendapat dorongan signifikan.
Ketika KH Abdurrahman Wahid menulis artikel tentang mereka di surat kabar ternama The New York Times.
Pengakuan global lainnya datang dalam bentuk LibForAll Award di Amerika Serikat, yang diberikan atas lagu "Warriors of Love" (versi bahasa Inggris dari "Laskar Cinta") yang dianggap mendukung perdamaian dan toleransi beragama.
Penghargaan ini diserahkan langsung oleh CEO LibForAll Foundation, Holland Taylor, di New York.
Pada periode album "Republik Cinta", Dewa 19 mengeluarkan investasi besar.
Termasuk produksi 11 video klip yang menghabiskan dana lebih dari setengah miliar rupiah.
Mereka juga merilis VCD/DVD Karaoke dan membuat video klip internasional untuk lagu "I Want to Break Free" (Queen), yang diputar di seluruh jaringan Hard Rock Cafe dunia.
Meskipun karier internasional mereka tidak sepenuhnya meledak, album "Republik Cinta" sukses besar di dalam negeri.
Album ini terjual 450 ribu kopi dalam 3,5 minggu, meraih sertifikat platinum di Malaysia, dan menyabet penghargaan "Grup Rock Terbaik" dan "Album Terbaik" di AMI Awards 2006.
Vokalis Once juga memenangkan "Penyanyi Solo Pria Terbaik" di ajang yang sama. Pada tahun yang sama, mereka secara resmi diangkat sebagai "Duta Surabaya".
Akhir Satu Era: "Kerajaan Cinta", Tur, dan Masa Vakum
Pada 2007, Dewa 19 merilis album kompilasi "Kerajaan Cinta".
Album ini menampilkan dua lagu baru, "Dewi" dan "Mati Aku Mati", yang terakhir menjadi soundtrack film "Kamulah Satu-Satunya".
Di tahun yang sama, mereka melakukan tur sejarah di lima kota besar Malaysia (Kota Kinabalu, Kuching, Johor Bahru, Penang, dan Kuala Lumpur) dalam satu bulan, berkolaborasi dengan artis seperti Ella dan Sheila Majid, serta menciptakan lagu khusus "Cintaku Tertinggal di Malaysia".
Setelah tur, band memasuki masa vakum karena masing-masing anggota fokus pada proyek solo.
Andra Junaidi membentuk Andra & The Backbone (2006).
Ahmad Dhani mengembangkan Republik Cinta Management yang melahirkan artis seperti Dewi Dewi dan Mulan Jameela, serta membentuk band The Rock.
Once merintis karier solo, sementara Yuke Sampurna membentuk Number One dan The Chemistry.
Proyek album kesepuluh terbengkalai, dan Dewa 19 hanya merilis beberapa singel seperti "Perempuan Paling Cantik..." (2008) dan "Bukan Cinta Manusia Biasa" (2009).
Menurut pengamat Bens Leo, kesibukan Dhani mengurus Republik Cinta justru menyebabkan perhatian pada Dewa 19 menurun.
Kepergian Once, Konser Reuni, dan Usaha Kebangkitan
Awal 2011, Once mengumumkan hengkang dari Dewa 19 untuk fokus pada karier solo, yang menjadi titik awal vakum panjang.
Ahmad Dhani kemudian memutuskan untuk menggelar serangkaian konser reuni yang melibatkan berbagai mantan personel seperti Tyo Nugros, Wong Aksan, Ari Lasso, dan Once sendiri.
Puncak nostalgia terjadi pada 23 Februari 2013 dalam konser "Sang Dewa Cinta", di mana formasi awal dengan Wawan Juniarso dan Erwin Prasetya kembali bersatu setelah 19 tahun.
Dhani berencana menghidupkan kembali Dewa 19 dengan mengajak Ari Lasso kembali sebagai vokalis utama.
Meski pun rencana ini memerlukan syarat tertentu.
Dalam konser reuni di Kuala Lumpur pada 2 Februari 2019, posisi Dhani yang berhalangan digantikan oleh putranya, Dul Jaelani.
Pada 2 Mei 2020, dunia musik Indonesia berduka dengan meninggalnya Erwin Prasetya, bassis dan pendiri Dewa 19, akibat pendarahan lambung.
Kebangkitan Kembali dengan Formasi dan Vokalis Baru
Sejak 2021, Dewa 19 kembali aktif
Mereka mengadakan Konser Pesta Rakyat dan mulai merekam ulang lagu-lagu lama dengan Virzha sebagai vokalis tamu, yang telah mengisi 36 lagu hingga 2023.
Pada 28 Februari 2022, Marcello Tahitoe diumumkan sebagai vokalis baru.
Kejutan lain hadir pada 13 Desember 2022, ketika Dewa 19 merilis lagu baru bersama Ari Lasso setelah 23 tahun tidak berduet.
Di tahun 2023, selain melakukan serangkaian tur, Dewa 19 juga menghadapi konflik internal dengan mantan vokalis yaitu Once.
Permasalahan mengenai hak royalti atas penggunaan karya sejak 2019, menandai dinamika baru dalam perjalanan legenda band ini.
Personil Dewa 19
Saat ini
- Ahmad Dhani, saat ini mengisi peran sebagai kibordis, penyintesis, pemrogram, pengarah kreatif, vokalis utama, dan gitaris sejak tahun 1986.
- Andra Ramadhan, juga tetap berperan sebagai gitaris sejak tahun yang sama.
- Yuke Sampurna, memegang peranan sebagai pemain bas sejak tahun 2002,
- Agung Yudha, menjadi pemain drum dan perkusionis sejak tahun 2007.
Mantan Personil Dewa 19
- Wawan Juniarso, pernah menjabat sebagai penabuh drum dan perkusionis pada tahun 1986-1987dan 1991-1994.
- Erwin Prasetya, pemain bas, aktif dalam periode 1986-1999,2000-2002 hingga meninggal dunia pada tahun 2020.
- Wong Aksan, drummer, mengisi peran penabuh drum dan perkusionis dari tahun 1995-1998.
- Tyo Nugros, mengambil alih posisi Wong Aksan tersebut pada tahun 1999-2007
- Once Mekel, menjadi vokalis utama dalam rentang waktu 1999-2011.
Vokalis tambahan
- Virzha, menjadi vokalis sejak tahun 2021.
- Ello, bergabung sebagai vokalis sejak tahun 2022.
- Ari Lasso, yang sebelumnya menjabat sebagai vokalis utama dari tahun 1991 hingga 1999, kembali menempati peran tersebut sejak tahun 2022.
Album Dewa 19
Album Studio
- 19↗ (1992)
- Format Masa Depan↗ (1994)
- Terbaik Terbaik↗ (1995)
- Pandawa Lima↗ (1997)
- Bintang Lima↗ (2000)
- Cintailah Cinta↗ (2002)
- Laskar Cinta↗ (2004)
- Republik Cinta↗ (2006)
- Kerajaan Cinta↗ (2007)
Posting Komentar untuk "Dewa 19 - Karir Dan Perjalanannya "